Sabtu, 27 November 2010

Petingnya Multi Kompetensi Pelayan Tuhan (Guru Agama Kristen)


SDM: MULTI KOMPETENSI + KREATIF

Kristen Visioner Harus Bermulti Kompetensi
Ada kecenderungan di dalam dunia pelayanan Kristen untuk begitu mudah melakukan sesuatu dengan mengatas-namakan panggilan. Banyak bisnis-man menjadi pendeta. Banyak artis mendadak berkhotbah, dan banyak pendeta mendadak menjadi caleg. Kita tidak bisa menghakimi atau menyalahkan. Siapa tahu memang itu panggilannya, bukan? Tetapi alasan panggilan bukan berarti mengabaikan pengembangan kompetensi. Artinya, kalau seorang bisnis-man benar-benar ingin menjadi pendeta, ya harus belajar Alkitab atau sekolah di seminari. Kalau memang seorang artis merasa dipanggil menjadi pengkhotbah, ya harus hidup sungguh-sungguh dan belajar Alkitab sungguh-sungguh. Demikian juga kalau seorang pendeta merasa disuruh Tuhan untuk swift menjadi seorang politisi, ya harus belajar ilmu politik.
Sejak reformasi protestan oleh Martin Luther, karena pelayanan kaum awam mulai terbuka, pelayanan rohani tidak lagi dihegemoni oleh elit keagamaan (clergies). Siapa saja orang percaya bisa melayani Tuhan. Gerakan Kristen Karismatik semakin membuka lebar peluang bagi kaum awam untuk terlibat dalam berbagai jenis pelayanan. Siapa saja bisa diurapi Roh Kudus untuk menjalankan pelayanan. Karena itulah para sarjana teologi bisa kalah. Banyak pengkotbah dan pendeta hebat bertitel insinyur, sarjana ekonomi, atau lainnya, bukan sarjana teologi. Di satu sisi, keterbukaan bagi kaum awam ini sangat bagus. Semua orang percaya berpeluang sama untuk bisa melayani Tuhan. Tetapi di sisi lain, aturan main dan kualifikasinya menjadi tidak jelas. Akhirnya banyak hamba Tuhan dan pendeta jadi-jadian. Mendadak pendeta. Mendadak hamba Tuhan. Terkadang motifasinya mencari uang. Atau karena gagal berusaha di bidang pekerjaan sekuler maka beralih (pelarian) ke pelayanan. Atau, malahan, membisniskan pelayanan. Jadi, yang penting adalah kualifikasi kompetensi. Apalagi jika ingin menjadi seorang agen transformasi yang harus mempunyai strategi yang kuat, sangat membutuhkan kompetensi yang unggul.

Contoh Tokoh Kristiani Dengan Multi Kompetensi
Mengapa orang Kristen (penginjil, pendeta, kaum awam yang bekerja di sekuler) kurang berdampak? Jawabnya adalah kurangnya multi kompetensi sebagai agen transformasi. Seorang pendeta Kristen hanya dibekali pelajaran teologi di kampus atau seminarinya. Ia kurang belajar bidang-bidang lain. Sehingga, ketika ada masalah politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain yang terjadi di masyarakat, ia tidak bisa berkomentar apa-apa. Ia tidak bisa memberi pemikiran-pemikiran originalnya. Ia juga tergagap-gagap untuk mengkomunikasikan pesan Firman Tuhan kepada masyarakat. Tidak tahu bagaimana cara membawa teologi ke ranah publik. Sebaliknya, kaum awam Kristen yang bekerja di dunia sekuler kurang dibekali kemampuan teologi praktis untuk bisa menjadi saksi Kristus di marketplace. Akibatnya, mereka bekerja hanya untuk mencari uang. Kekristenan hanya dijadikan sarana untuk mendapatkan pertolongan Tuhan sehingga pekerjaannya sukses (teologi kemakmuran). Mereka tidak diajarkan bagaimana menjadi agen pembaharu Kristen di dunia kerja.
Kaum muda Kristen tidak mempunyai semacam idealisme untuk bangsa dan negara. Pelajaran-pelajaran Alkitab dan seminar-seminar kepemudaaan Kristen cenderung berkisar pada pembahasan masalah siklus kehidupan. Misalnya bagaimana pacaran yang baik, bagaimana mempersiapkan pernikahan, bagaimana menjadi pria sejati dan wanita bijak. Itu sudah sangat bagus karena meningkatkan kualitas kerohanian. Tetapi, tidak cukup hanya itu. Kaum muda Kristen harus dimotivasi dan dibekali untuk menjadi pemimpin-pemimpin masa depan sehingga dapat misalnya, berdampak di parlemen, berdampak di dunia pendidikan, berdampak di dunia hukum, dan seterusnya. Dan, hal itu membutuhkan pembinaan multi kompetensi yang bukan melulu kompetensi rohani.
Dalam hal multi kompetensi, orang Kristen perlu belajar dari Katolik. Perhatikan saja misalnya Romo Mangunwijaya. Dia bukan hanya seorang pastur (rohaniawan), tetapi dikenal luas sebagai arsitek, budayawan, novelis, dan pejuang sosial. Karya-karya dan aksi-aksinya menyentuh kehidupan kaum papa, mengentaskan nasib mereka dan mempengaruhi kebijakan pemerintah. Romo Mangun bisa melancarkan dampak seperti itu karena ia memiliki multi kompetensi, bukan hanya kompetensi rohani dan tologia. Seandainya ada 1.000 pendeta Kristen berkapasitas seperti, transformasi Indonesia pasti lancar!

Yusuf: Transformator Bermulti Kompetensi
Yusuf bin Yakub adalah contoh agen transformasi. Ia tinggal di negeri asing (Mesir) seorang diri, minoritas. Ia meniti karir dari nol sebagai budak. Karena berkompetensi dan disertai Tuhan, karirnya terus menanjak. Akhirnya, ketika Roh Kudus membuat “terobosan rohani”, terbukalah kesempatan baginya untuk tampil menjadi problem solver masalah krusial bangsa Mesir. Ide brilyannya (dalam menafsirkan mimpi raja) memberi jalan keluar bagi masalah paceklik yang menghadang bangsa itu. Prestasinya menaikkan posisinya sebagai orang nomor dua di negeri itu. Ia pun menjadi saksi dan berkat. Ia adalah seoran pemimpin berdampak! Kesuksesan Yusuf memang karena kasih karunia Tuhan. Tetapi, juga karena ia memiliki multi kompetensi sebagai berikut :
1.        Kompetensi Rohani. Yusuf memiliki kualitas kehidupan rohani yang unggul, terbukti bahwa ia selalu disertai Tuhan (Kej 39:2, 3, 21, 23) soal ”disertai Tuhan” yang ditulis beberapa kali menunjukkan bahwa itu sangat penting. Ia juga unggul dalam soal intergritas (Kej 39:9b; 40:15).
2.        Kompetensi Visi. Sejak awal, saat remaja, Yusuf sudah mempunyai kecerdasan spiritual yaitu menangkap visi yang diberikan Tuhan via mimpi (Kej 37:5-7).
3.        Kompetensi Mentalitas.Yusuf memiliki mentalitas tahan banting yang luar biasa. Ia berhasil melewati berbagai tekanan seperti situasi di mana aspirasinya tidak didengar (Kej 37:6-8), dipinggirkan, ditolak, dibuang (Kej 37:28), posisi tawar lemah, Yusuf hanya menjadi budak (Kej 37:36), diperlakukan tidak adil (Kej 39:20), tak punya kesempatan memperjuangkan diri (Kej 40:14), dimanfaatkan dan dilupakan (Kej 40:23).
4.        Keempat, Kompetensi Sumber Daya Manusia.Yusuf adalah seorang pekerja hebat (Kej 39:2). Yusuf memiliki hikmat kebijaksanaan (41:37-38). Kelima, Kompetensi Kepemimpinan. Saat mempresentasikan hikmat di hadapan Firaun, Yusuf tampil meyakinkan dengan wibawa kepemimpinan yang luar biasa karena urapan Roh Kudus (Kej 41:38).

Paulus, Hamba Tuhan Multi Kompetensi
Paulus adalah seorang hamba Tuhan dengan multi kompetensi. Panggilannya dalam pelayanan sangat jelas. Ia adalah seorang penginjil, rasul, dan pengajar sekaligus (1 Tim 2:7). Namun, pengetahuan dan skill-nya bukan hanya mencakup hal-hal rohani. Ia pun menguasai pengetahuan dan skill sekuler. Berikut adalah beberapa fakta Alkitab yang menunjukkan kapasitasnya yang multi-kompetensi itu. Paulus berasal dari kota yang terkenal, Tarsus (Kis 21:39). Sebuah kota pusat pendidikan. Para ahli seperti Sir William Ramsay dan lain-lain umumnya menerima bahwa Paulus mempelajari berbagai filsafat Yunani dan mempelajari pula ibadah-ibadah agama-agama saat masih mudanya.
Paulus dididik dengan teliti di bawah Gamaliel (Kis 22:3) yang adalah seorang doktor ilmu hukum dan anggota Sanhedrin. Ia dari sayap golongan liberal Farisi. Gamaliel disebut sebagai rabban (guru kami), sebuah gelar kecendekiaan yang lebih tinggi dari rabbi (guruku). Paulus memahami masalah hukum dan seluk beluk masalah kewarganegaraan. Sehingga, ketika hendak diperlakukan tidak adil, ia dapat membela diri lewat ”debat hukum” sebagaimana dicatat Alkitab: Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: ”Bolehkah kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?” Mendengar perkataan itu perwira itu melaporkannya kepada kepala pasukan, katanya: “Apakah yang hendak engkau perbuat? Orang itu warga negara Rum?” Maka datanglah kepala pasukan itu kepada Paulus dan berkata: “Katakanlah, benarkah engkau warganegara Rum?” Jawab Paulus: “Benar.” Lalu kata kepala pasukan itu: “Kewarganegaraan itu kubeli dengan harga yang mahal.” Jawab Paulus: “Tetapi aku mempunyai hak itu karena kelahiranku.” Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum (Kis 22:25-29). Paulus mempunyai pengetahuan umum yang luas sehingga pelajaran-pelajarannya kaya akan ilustrasi dan komparasi. Misalnya ia memberi contoh dari dunia olahraga lari (Flp 3:13-14) dan tinju (1 Kor 9:26) Paulus bahkan mempunyai ketrampilan (soft skill) untuk membuat tenda (Kis 18:3). Dengan wirausaha sampingan itu ia bisa menghidupi diri sehingga tidak membebani jemaat.
Bahkan ia tahu soal makanan sehat. Kepada Timotius, Paulus menasihatkan supaya ia mengkonsumsi anggur sebagai tonik, katanya, “Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkalah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah (1 Tim 5:23).

Tuntutan Sekarang: Harus Kreatif
Dalam era IPTEK modern, hanya orang-orang cerdas yang mampu berpikir kreatif sajalah yang laku dan menang. Dalam The Emerging Digital Economy Report tahun 1996, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan kebangkitan era ekonomi digital. Teknologi informasi (IT) telah menjadi pilar utama kegiatan-kegiatan ekonomi. Industri-industri yang berbasis teknologi informasi adalah industri-industri yang menjanjikan gaji tinggi (high paying job). Pada tahun 1996, 7,4 juta pekerja bekerja pada sektor ini dan memperoleh gaji US $ 46.000 per tahun. Sementara pada sektor privat lain, rata-rata hanya memberikan US $ 28.000 per tahun.
Demikian pula dalam kompetisi bisnis di era global sekarang. Orang-orang yang mampu berkipir kreatif sajalah yang akan leading. Apa yang dilakukan oleh sebuah perusahaan grosir bisnis bernama Webvan.com sangat kreatif. Mereka membangun jaringan pusat distribusi seluruh wilayah negara yang memungkinkannya melompati semua supermarket tradisional. Kemudian, semua barang yang dipesan oleh konsumen secara on-line akan dikirim pada saat itu juga. Strategi itu memampukan Webvan.com melakukan penghematan 50% dibanding rata-rata perusahaan grosir lainnya.
Perusahaan Hotmail.com juga sangat kreatif. Mereka memberikan pelayanan e-mail gratis yang dapat diakses dari setiap komputer di mana saja dan untuk membuat perangkat lunak berfungsi dengan baik tidak perlu di-download. Hasilnya, dahsyat. Dalam 18 bulan, berhasil merebut pengguna dari 0 sampai 10 juta. Pada pertengahan tahun 1999, layanan Hotmail mencapai 40 juta pengguna. Itu berarti jauh melampaui AOL yang hanya mempunyai 18 juta pengguna. Akhirnya, Hotmail diakuisisi oleh Microsoft pada bulan Mei 2007, dan kemudian meraih rekor 230 juta pengguna dan melayani e-mail 100 juta per hari. Sekarang, Hotmail menawarkan layanan e-mail dengan kecepatan tinggi, keandalan, dan kemudahan-kemudahan jaringan. Kalau bukan karena kreatifitas, perusahaan Nokia tidak akan pernah dikenal orang seperti sekarang ini. Pada awalnya, Nokia hanyalah sebuah perusahaan kecil di daerah pinggiran Kutub Utara yang sama sekali tidak dikenal. Saat itu, Nokia hanya memproduksi ban salju dan karet untuk sepatu boot. Kemudian, Nokia beralih strategi dengan mengembangkan teknologi digital. Pada tahun 1994, berhasil menjual 26 juta unit. Pada tahun 1999, berhasil menjual 300 juta sehingga melampaui rekor Motorolla yang memimpin pasar sampai tahun 1997. Pada tahun 2006, penjualan Nokia mencapai 41,1 milyiar euro dan meraup keuntungan sebesar 5,5 milyar euro. Kini, Nokia diakui sebagai sebuah perusahaan teknologi tinggi dengan pertumbuhan tercepat di Eropa dan menjadi nomor satu di dunia dalam bisnis industri seluler.

Manusia Pada Dasarnya Kreatif
Otak manusia terdiri dari dua belahan, kanan dan kiri. Kebenaran mengenai hal ini sebenarnya sudah dipahami oleh orang Mesir kuno, yaitu ketika mereka mengetahui bahwa otak kiri mengendalikan dan menerima sensasi dari sisi kanan tubuh kita dan demikian pula sebaliknya. Menurut riset, kedua bagian otak itu terhubung dengan jaringan super kompleks yang terdiri dari 300 juta neuron. Profesor Roger Sperry dari Universitas California melakukan penelitian mendalam mengenai otak kanan dan otak kiri manusia. Menurutnya, otak kiri memampukan manusia berpikir logis, runtut, analitis, matematis, dan sistematis. Dengan otak kiri, manusia mengembangkan pemikiran-pemikiran secara bertahap dan akumulatif. Ini disebut sebagai proses berpikir linear. Sedangkan otak kanan memampukan manusia berpikir kreatif. Otak kanan memampukan manusia berpikir tentang ide-ide abstrak seperti etika dan estetika. Otak kanan berproses kreatif dengan menggunakan irama, musik, kesan visual, warna, dan gambar. Otak kanan memampukan manusia berpikir secara menyeluruh sehingga disebut sebagai proses berpikir global. Komputer hanya bisa bekerja seperti otak kiri manusia, tetapi tidak bisa bekerja seperti otak kanan manusia. Itulah sebabnya Garry Kasparov bisa mengalahkan komputer super canggih Deep Blue. Otak kanan memungkinkan manusia berpikir kreatif secara intuitif tanpa melalui proses-proses berpikir logis yang sistematis. Sebagai contoh, adalah pada pemain bulu tangkis yang hebat. Taufik Hidayat dapat bereaksi cepat dan benar dalam hitungan detik. Terkadang, langkah-langkahnya tidak logis, tetapi cermat dan tepat. Dalam hal ini, ia berpikir intuitif dengan kekuatan otak kanannya. Orang yang kreatif adalah orang yang mengembangkan kedua belah otaknya. Kemampuan setiap belahan untuk melakukan fungsinya sendiri disebut ”laterialization”.

Cara Mengembangkan Kreatifitas
BeLAJAR KERAS.
Meskipun kreatifitas berhubungan dengan ilham, berpikir kreatif tetapi memerlukan proses belajar yang keras. Itulah sebabnya seorang Thomas Alfa Edison berkata, ”Jenius adalah 99% usaha keras dan 1% bakat.” Soichiro Honda, pendiri dan pemimpin pabrik motor Honda, berkata, ”Kesuksesan saya hanya 1% dari keseluruhan hidup saya, yang 99% adalah kegagalan.” Artinya, meskipun menemukan atau menciptakan sesuatu yang baru berkaitan dengan ilham, keseluruhan prosesnya membutuhkan fondasi pengetahuan dan pengalaman yang kuat. Menjadi kreator ilmiah bukan berarti tidak perlu sekolah. Bisa saja seseorang tiba-tiba mendapat semacam kilatan ilham. Namun, tanpa pemikiran yang siap dan lengkap, ilham itu tidak dapat ditangkap dan dikembangkannya dengan baik. Louis Pasteur berkata, “Peluang akan berpihak kepada pikiran yang siap.”
MENTAL KREATIF.
Berpikir kreatif adalah masalah sikap mental. Orang yang kolot atau tradisional tidak akan pernah menjadi kreatif. Orang yang takut mecoba dan takut gagal juga tidak akan pernah menjadi kreatif, Orang yang tidak bisa menghargai perbedaan dan hanya memegang suatu pikiran secara fanatis juga tidak akan pernah menjadi kreatif. Berpikir kreatif membutuhkan mental yang berani mencoba hal-hal baru. Dua bersaudara Orville Wright dan Wilbur Wright adalah pedagang sepeda. Kalau tidak pernah berani mencoba hal baru, mereka tidak pernah dikenal sampai hari ini. Wright bersaudara tidak puas dengan sepada, mereka ingin terbang. Pada tahun 1903, mereka berhasil merancang pesawat udara bermesin pertama yang bisa melayang di udara. Pada tahun 1906, mereka berhasil terbang selama 1 jam. Pada tahun 1909, mereka mendirikan The American Wright Company untuk pembuatan pesawat terbang. Berpikir kreatif harus berani mencoba dan gagal. Kolonel Sanders baru mengalami sukses pada usia 65 tahun. Sebelumnya, dengan modal US $ 105, ia membuat resep makanan ayam goreng dan ia berkeliling Amerika Serikat untuk menawarkannya ke berbagai rumah makan dan investor. Sanders ditolak sebanyak 1.009 kali sebelum akhirnya mendirikan Kentucky Fried Chicken yang sekarang mendunia.
MELIHAT SECARA KREATIF.
Untuk dapat menjadi kreatif, kita harus bisa melihat suatu masalah secara luas, tidak secara sempit. Kita berusaha melihat dari banyak sudut pandang (multi perspektif). Dengan demikian, kita akan mempunyai banyak ide, banyak alternatif, dan banyak solusi. Kita pun bisa membuat kombinasi solusi-solusi. Untuk dapat berpikir kreatif, kita perlu keluar dari persoalan dan melihat dari sisi luar masalah itu. Sebagai contoh adalah pada saat bermain catur. Sebelum menemukan langkah, kita harus melihat situasi secara menyeluruh, baik posisi kita maupun posisi lawan. Seolah-olah kita berada di atas papan catur itu dan melihat dari sudut luar permainan itu.
FAKTOR ILHAM.
Ilham merupakan kunci pembuka bagi kreatifitas berpikir. Hal itu diselidiki oleh Dr. Mir Aneesuddin, M.Sc., seorang peneliti pada Indian Institute of Chemical Technology di Heideradab, India. Ia menyimpulkan bahwa 99% temuan ilmiah sepanjang peradaban manusia merupakan temuan yang tidak disengaja. Ketika Newton menemukan teori gravitasi, ide itu muncul sebagai sebuah ilham ketika ia sedang duduk termenung dan ada buah apel jatuh tiba-tiba di depannya. Bethoven, Wagner, Coleridge, dan Robert Louis Stevenson sengaha menggunakan mimpi untuk mendapatkan ilham ide-ide kreatif. Ahli kimia Jerman Freidrich August Kekule menemukan struktur molekul ”benena” ketika ia sedang ”tidur-tidur ayam” di depan perapian. Wordsworth berkata, “Tidur adalah inkubator ide-ide yang paling dahsyat, induk dari pikiran yang segar.” Dengan demikian, berpikir kreatif berkaitan erat dengan imajinasi, fantasi, lamunan, mimpi, dan intuisi. Albert Einstein adalah seorang yang suka melamun. Katanya, “Ketika aku mengkaji diriku dan metode pemikiranku, aku berkesimpulan bahwa bakatku yang suka berfantasi jauh lebih berarti bagiku daripada bakatku dalam menyerap pengetahuan positif.”

Menjadi Cerdas Dan Kreatif Karena Tuhan

Prinsip Meminta
Salomo adalah raja pertama Israel yang naik tahta berdasarkan garis keturunan. Berbeda dengan Daud, Salomo tidak menerima suatu kapasitas rohani khusus sebelum ia menjadi raja. Baru setelah ia menjadi raja, Tuhan memberinya kapasitas berupa hikmat illahi karena Salomo meminta hal tersebut. Hal itu jelas dicatat dalam Kitab Suci. Di Gibeon itu Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.” (1 Raj 3:5) Karena Salomo telah menunjukkan kasihnya kepada Tuhan (1 Raj 3:3) dan memberi korban persembahan yang diperkenan Tuhan (1 Raj 3:4), Salomo diperbolehkan untuk menaikkan permohonan.
Di dalam Kristus, orang percaya diperkenankan untuk meminta sesuatu kepada Tuhan. Apa saja boleh diminta, asalkan sesuai dengan FirmanNya. Tuhan akan mengabulkan jika permintaan itu seturut dengan kehendakNya. Secara khusus, Alkitab mencatat bahwa Tuhan akan mengabulkan jika kita meminta hikmat (sophia, wisdom) dari padaNya. Janji Tuhan tentang hal meminta itu adalah di Matius 7:7-8, Yohanes 15:7, 1 Yohanes 5:14, Yakobus 1:5; 1 Raja-raja 3:7

Prinsip Memohon Hikmat Untuk Kepentingan Umat
Mengapa Tuhan menjawab permohonan Salomo tentang hikmat? Dari kata-kata doa yang dinaikkannya diketahui bahwa, pertama, Salomo menghormati kasih setia Tuhan. Kedua, Salomo mengakui bahwa dirinya menjadi raja semata-mata karena Tuhan yang mengangkat dirinya. Ketiga, Salomo merendahkan diri dengan mengakui kekurangan dan kelemahan dirinya sebagai anak muda yang masih hijau. Keempat, Salomo mengutamakan kepentingan umat Tuhan. Artinya, ia meminta hikmat bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, namun untuk kepentingan orang banyak (1 Raj 3:6-9)
Bagaimana respon Tuhan terhadap doa Salomo? Pertama, Tuhan menilai bahwa permintaan Salomo itu tidak egois atau hedonis. Salomo tidak mengedepankan kepentingan pribadi untuk meraih kesehatan (umur panjang), kekayaan, dan kekuasaan (musuh-musuhnya dikalahkan) (1 Raj 3:11). Kedua, Tuhan menjawab doa Salomo dengan memberinya hati yang penuh dengan hikmat dan pengertian yang menjadikannya sebagai raja bijaksana sepanjang zaman (1 Raj 3:12). Ketiga, Tuhan menambahkan bonus-bonus berkat seperti kekayaan, kemuliaan, dan juga umur panjang (1 Raj 3:13-14).
Dapat ditarik kesimpulan bahwa Tuhan akan memberikan kita hikmat jika kita menggunakannya untuk kepentingan orang banyak (umat manusia). Bandingkanlah dengan para penemu seperti Thomas Alfa Edison atau Henry Ford. Terlepas dari mereka Kristen atau tidak, Tuhan memberikan anugerah hikmat yang luar biasa karena mereka menciptakan penemuan-penemuan yang berguna bagi umat manusia. Apa yang mereka pikirkan adalah bagaimana menjadikan kehidupan masyarakat lebih baik. Sebenarnya, mereka tidak egois dan berpusat pada diri sendiri. Sebaliknya, mengapa orang Kristen kekurangan hikmat? Mengapa kita kalah cerdas dan kalah kreatif dibanding orang-orang dunia? Salah satu kemungkinannya adalah karena orang Kristen itu egois. Kita hanya berpikir bagaimana menjadi kaya, bagaimana meraih kemakmuran, dan hidup sehat walafiat. Orang Kristen jarang memikirkan nasib masyarakat miskin dan penderitaan bangsa. Karena itu, Tuhan malah memberikan kreatifitas kepada para aktifis sosial dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat non Kristen yang lebih concern dengan pengentasan kemiskinan dan perbaikan taraf hidup.
Bagaimana hikmat illahi itu beroperasi dalam otak raja Salomo? Itu lebih dari sekedar intuisi atau kemampuan daya cipta otak kanan. Kreatifitas pikiran Salomo itu sangat khas. Perhatikanlah bagaimana ia menemukan ide cemerlang pada saat-saat sulit. Pada suatu hari, datanglah di hadapan Salomo dua orang perempuan yang memperebutkan seorang anak. Masing-masing mengklaim bahwa anak itu adalah anaknya. Ibu dari anak itu sudah mencoba menjelaskan duduk persoalan dan kronologi peristiwanya sampai terjadi perebutan anak itu. Tetapi, ibu yang satunya yang anaknya telah mati, bersikukuh mengklaim bahwa anak itu adalah anaknya. Terjadilah pertengkaran hebat. Cling! Sontak, Salomo menemukan ide brilyan untuk menyelesaikan masalah itu (1 Raj 3:24-27) Benar-benar sebuah demonstrasi kreatifitas berpikir seorang hakim yang cerdas, bukan? Segenap umat Israel menyadari bahwa raja mereka yang satu ini adalah orang yang diberi hikmat luar biasa oleh Tuhan untuk menegakkan keadilan (1 Raj 3:28).
Di kemudian hari, Salomo dikenal sepanjang masa sebagai empu hikmat. Kapasitasnya dalam berhikmat melebihi rekan-rekan sebayanya di Mesir, Arab, Kanaan, dan Edom (1 Raj 4:29 dab). Salomo sendiri adalah penganjur sastra hikmat Israel. Salomo mengumpulkan dan menggubah ribuan amsal dan nyanyian (1 Raj 4:32). Di samping kitab Amsal, kitab Kidung Agung dan Pengkotbah mengisyaratkan bahwa Salomo adalah penulisnya. Mazmur 72 dan 27 juga merupakan gubahannya. Kehebatan hikmat Salomo juga diakui oleh bangsa-bangsa di luar Israel. Tidak ada seorang pun pahlawan zaman kuno yang begitu dipuja dalam sastra rakyat. Terdapat banyak sekali cerita Yahudi, Arab, dan Etiopia tentang kejayaan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh raja Salomo.
Dari kehidupan dan keberhasilan kepemimpinan Salomo di atas, kita dapat menarik beberapa kesimpulan. Pertama, Tuhanlah yang memberikan hikmat, pengetahuan, dan kepandaian (Ams 2:6). Karena itu, kita harus hidup benar dan berkenan dalam takut akan Tuhan (Ams 2:5). Kedua, kita perlu memohon hikmat dan kepandaian itu. Ketiga, kita meminta hikmat itu untuk kepentingan umat manusia, jangan untuk kepentingan diri sendiri (egosentris). Jika kita rindu menjadi berkat bagi orang lain, Tuhan akan menambah-nambahkan kepandaian. Kita diberkati untuk menjadi berkat. Kepandaian yang diberikan Tuhan jauh lebih dahsyat daripada kepandaian yang dimiliki karena usaha sendiri. Belajar itu harus. Tetapi, bersama Tuhan, orang percaya dapat melampaui kapasitas orang kebanyakan. Hal itu terbukti dalam kapasitas Daniel dan kawan-kawannya. Mereka memang sudah pandai (Dan 1:3-5) dan bertambah pandai karena dididik secara intensif (Dan 1:5). Tetapi, Tuhan menambahkan kapasitas sedemikian rupa sehingga mereka mencapai taraf excellent (Dan 1:17, 20).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar